Makan Bakmie

Dua hari yang lalu anak sulung saya makan bakmie kesukaannya.  Biasanya kami membawa peralatan makan berupa sendok dan garpu kecil (dia masih umur 3 tahun).  Kali ini kami lupa jadi dia menggunakan garpu normal, dengan semangat dia menggali bakmi di mangkuknya berkali-kali, saya sedang asyik makan tanpa melihat perkembangan makan dia, ketika saya lihat ternyata mienya masih banyak. Kok bisa?  Ternyata selama saya makan dia mengalami pergumulan dengan bakmi yang terus menerus melorot dari celah garpu ukuran besar.  Seandainya saya seorang motivator mungkin saya akan berteriak ayo anakku kamu pasti bisa! Dan terus menyemangati dirinya tanpa menyadari duduk persoalan yang dialami sibuk memberi semangat kenapa dia harus makan bakmi itu (Why to?) padahal yang dibutuhkan dia pada saat itu adalah caranya (How to?).  Ketika saya melihat masalahnya adalah rongga yang besar pada garpunya saya mengingatkan dia skill yang diajarkan ibunya untuk makan spaghetti (how to) yaitu dengan dipilin-pilin sampe cukup besar.  Dalam 4 lahapan mangkuk tersebut habis karena dia mampu memilin bakmi menjadi buntalan besar.

Hal sederhana ini memberikan saya refleksi dimana terkadang saya cukup pelit untuk tidak menginvestasikan diri mengikuti training dan memilih belajar sendiri, ya tentunya belajar sendiri lebih terlihat murah tapi apakah lebih cepat? Saya bisa menyemangati diri sendiri tapi apakah kemampuan belajar dan pengertian tentang materi lebih cepat?  Tidak juga.

Saya ingat James Gwee pernah di dalam salah satu sesi trainingnya berkata untuk masak nasi itu gampang nggak?  Gampang karena kita sudah tahu takaran air yang diperlukan.  Bayangkan jika kita harus masak nasi sendiri tanpa ada yang memberitahukan kita air yang diperlukan berapa banyak nasi kerak dan bubur yang kita buat dalam perjalanan? Berapa banyak waktu dan uang yang dihabiskan?

Training why to perlu tetapi tanpa how to kita akan menghabiskan waktu sia-sia, “don’t try to reinvent the wheel”.  Jika sudah ada orang yang lebih ahli dari kita dalam bidang tertentu belajarlah dari mereka walaupun ada biayanya.  Karena biaya belajar jauh lebih murah dari biaya kegagalan.

(Gambar Bakmi bukan gambar sebenarnya…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *